Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos
(Pengurus MW KAHMI Sumut 2026-2031)
Dalam tradisi gerakan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), propaganda dan agitasi bukan sekadar aktivitas menyampaikan pesan atau membangun opini. Keduanya merupakan bagian dari seni komunikasi gerakan-bagaimana sebuah gagasan diperkenalkan, kesadaran dibangun, dan masyarakat didorong untuk mengambil sikap terhadap persoalan yang dihadapi.
Propaganda pada dasarnya merupakan proses penyebarluasan gagasan secara sistematis untuk membentuk kesadaran dan opini publik. Sementara agitasi lebih menekankan pada upaya menggugah emosi, kesadaran, keberanian, dan daya gerak massa agar tidak berhenti pada pemahaman, tetapi berlanjut menjadi tindakan.
Dalam konteks HMI, keduanya idealnya tidak boleh dilepaskan dari nilai-nilai keislaman, keilmuan, dan tanggung jawab moral. Gagasan yang disampaikan harus memiliki dasar argumentasi, sementara mobilisasi gerakan harus diarahkan pada kepentingan yang lebih besar, bukan sekadar kepentingan kelompok atau individu.
HMI memiliki tradisi intelektual yang menempatkan ide sebagai kekuatan perubahan. Karena itu, propaganda yang sehat bukanlah manipulasi informasi, melainkan kemampuan kader menerjemahkan gagasan besar menjadi bahasa yang dapat dipahami masyarakat. Sedangkan agitasi bukan sekadar membakar kemarahan, tetapi membangkitkan kesadaran kritis agar masyarakat memahami persoalan dan terdorong mencari perubahan.
Di sinilah kualitas kader diuji. Propaganda tanpa ilmu akan mudah berubah menjadi klaim kosong, sementara agitasi tanpa moral dapat berubah menjadi provokasi. Sebaliknya, propaganda yang berbasis ilmu dan agitasi yang berlandaskan nilai dapat menjadi instrumen penting dalam membangun kesadaran sosial.
Tradisi gerakan HMI seharusnya menjadikan komunikasi sebagai ruang untuk mendidik, menyadarkan, dan menggerakkan. Bukan memperbesar kebencian, menyebarkan fitnah, atau menciptakan polarisasi.
Pada akhirnya, kekuatan gerakan tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras suara yang terdengar, tetapi oleh seberapa kuat gagasan yang dibawa, seberapa benar informasi yang disampaikan, dan seberapa besar manfaat perjuangan itu bagi masyarakat.
Sebab, gerakan yang besar bukanlah gerakan yang paling gaduh, melainkan gerakan yang mampu mengubah kesadaran menjadi tindakan dan tindakan menjadi perubahan.


