DUKHON DAN FENOMENA MENGERIKAN DI AKHIR ZAMAN: ANTARA PERINGATAN LANGIT, KRISIS KEMANUSIAAN, DAN RAPUHNYA KESADARAN MANUSIA

Advertisement


 

banner

DUKHON DAN FENOMENA MENGERIKAN DI AKHIR ZAMAN: ANTARA PERINGATAN LANGIT, KRISIS KEMANUSIAAN, DAN RAPUHNYA KESADARAN MANUSIA

MMS
Rabu, 14 Oktober 2026

Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos
(Aktifis Sosial-Politik Islam)

Ada fenomena yang dalam keyakinan Islam dipandang bukan sekedar peristiwa alam biasa, melainkan bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah SWT dan pengingat bagi manusia tentang keterbatasan hidupnya. Salah satu fenomena yang kerap diperbincangkan dalam kajian akhir zaman adalah Dukhon, yang secara bahasa berarti asap dan disebut dalam Al-Qur'an sebagai salah satu peristiwa yang mengandung peringatan bagi umat manusia.

Dalam Surah Ad-Dukhan ayat 10-11, Allah SWT berfirman tentang datangnya dukhan atau asap yang nyata, yang menyelimuti manusia. Ayat ini telah menjadi bahan pembahasan para ulama dan mufasir dalam memahami tanda-tanda kekuasaan Allah serta peringatan tentang konsekuensi ketika manusia berpaling dari kebenaran.

Namun, pembicaraan mengenai Dukhon tidak seharusnya berhenti pada ketakutan terhadap sebuah fenomena misterius. Lebih dari itu, ia perlu menjadi ruang refleksi untuk menilai bagaimana manusia menjalani kehidupan, memperlakukan sesama, menjaga alam, serta membangun hubungan dengan Sang Pencipta.

Dalam khazanah keislaman, Dukhon memiliki tempat tersendiri dalam pembahasan mengenai akhir zaman. Sejumlah penafsiran menghubungkan ayat-ayat tentang Dukhon dengan peristiwa yang terjadi pada masa Nabi Muhammad SAW, sementara sebagian ulama juga membahas kemungkinan kaitannya dengan tanda-tanda menjelang kiamat.

Perbedaan penafsiran tersebut menunjukkan bahwa persoalan Dukhon membutuhkan pemahaman yang cermat, bukan sekedar spekulasi yang dibangun di atas ketakutan publik.

Di tengah perkembangan teknologi informasi, istilah Dukhon sering dikaitkan dengan berbagai peristiwa, mulai dari polusi udara, kebakaran hutan, konflik bersenjata, hingga fenomena atmosfer yang menimbulkan kecemasan. Akan tetapi, menghubungkan setiap kejadian tersebut secara langsung dengan tanda akhir zaman tanpa bukti yang memadai bukanlah sikap yang bijaksana.

Keimanan semestinya mendorong manusia untuk memperdalam ilmu, memperkuat ketakwaan, dan meningkatkan kepedulian terhadap kehidupan, bukan terjebak dalam ramalan yang belum dapat dipastikan.

Jika berbicara tentang fenomena mengerikan di akhir zaman, perhatian kita tidak semestinya hanya tertuju pada kemungkinan munculnya asap yang menyelimuti bumi. Ada persoalan lain yang tidak kalah memprihatinkan, yaitu ketika nilai-nilai kemanusiaan semakin terpinggirkan oleh kepentingan, keserakahan, dan kekuasaan.

Peperangan yang merenggut nyawa orang-orang tidak bersalah, ketimpangan sosial yang semakin terasa, kerusakan lingkungan, penyebaran fitnah, serta kebencian yang dipelihara melalui ruang digital merupakan persoalan nyata yang patut mendapatkan perhatian bersama.

Kita menyaksikan bagaimana informasi dapat dimanipulasi, perbedaan dijadikan alasan permusuhan, dan penderitaan manusia terkadang berubah menjadi tontonan yang kehilangan empati. Dalam situasi seperti ini, ancaman terbesar bukan hanya sesuatu yang mungkin datang dari langit, melainkan juga hilangnya kesadaran moral di dalam diri manusia.

Tentu saja, berbagai persoalan tersebut tidak dapat serta-merta dinyatakan sebagai bukti bahwa kiamat sudah dekat. Namun, semuanya dapat menjadi bahan introspeksi tentang arah kehidupan manusia dan tanggung jawab kita dalam menjaga peradaban.

Salah satu tantangan dalam membicarakan akhir zaman adalah kecenderungan sebagian orang untuk lebih tertarik pada prediksi peristiwa besar daripada memperbaiki perilaku sehari-hari.

Tidak sedikit pembahasan yang beredar di media sosial menggunakan narasi menakutkan, menghubungkan kejadian tertentu dengan ramalan, atau menyampaikan klaim tentang tanda-tanda kiamat tanpa penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Padahal, pesan keagamaan seharusnya tidak digunakan untuk menyebarkan kepanikan. Al-Qur'an mengingatkan manusia agar senantiasa mempersiapkan diri, memperbaiki amal, dan menyadari bahwa pengetahuan tentang waktu terjadinya kiamat berada dalam kekuasaan Allah SWT.

Dalam perspektif ini, membahas Dukhon semestinya membawa manusia kepada pertanyaan yang lebih mendasar: sudahkah kita memperbaiki hubungan dengan Allah, menjaga amanah, menghormati orang tua, menyayangi keluarga, membantu orang yang membutuhkan, dan menghindari tindakan yang merugikan sesama?

Sebab, kesadaran terhadap akhir kehidupan seharusnya melahirkan tanggung jawab, bukan kepanikan; menumbuhkan kerendahan hati, bukan kesombongan; serta memperkuat persaudaraan, bukan permusuhan.

Pembahasan mengenai akhir zaman juga perlu ditempatkan dalam konteks tanggung jawab sosial. Ketika kerusakan lingkungan terjadi, manusia harus berani melakukan pembenahan. Ketika ketidakadilan muncul, masyarakat perlu memperjuangkan keadilan melalui cara-cara yang benar. Ketika hoaks dan fitnah menyebar, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum meneruskannya.

Dengan demikian, kesadaran spiritual tidak berhenti pada ritual keagamaan, tetapi juga tercermin dalam tindakan nyata untuk menjaga kehidupan.

Dukhon, dalam berbagai pembahasan keislaman, mengingatkan manusia tentang seriusnya peringatan Allah dan keterbatasan pengetahuan manusia. Namun, kita tidak boleh menjadikan ketidakpastian sebagai alasan untuk mengarang kepastian, apalagi menakut-nakuti masyarakat dengan klaim yang belum teruji.

Justru di tengah berbagai kecemasan global, masyarakat membutuhkan ketenangan, ilmu pengetahuan, sikap kritis, dan pegangan moral yang kuat.

Pada akhirnya, pembicaraan tentang Dukhon dan fenomena mengerikan di akhir zaman seharusnya menjadi momentum untuk membangun kesadaran kolektif. Manusia perlu memahami ajaran agama secara mendalam, membaca realitas dengan jernih, dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang memancing ketakutan.

Kita tidak mengetahui kapan kiamat akan terjadi. Karena itu, yang lebih penting bukanlah sibuk menentukan waktu atau menebak-nebak bentuk peristiwa yang akan datang, melainkan memastikan bahwa kehidupan hari ini dijalani dengan iman, ilmu, kejujuran, dan tanggung jawab.

Sebab, apabila manusia terus kehilangan nurani, merusak alam, mengabaikan keadilan, dan memelihara kebencian, maka kehidupan di dunia pun dapat berubah menjadi sesuatu yang mengerikan bagi sesamanya.

Jangan sampai manusia begitu sibuk mencari tanda-tanda akhir zaman, tetapi lupa membaca tanda-tanda kerusakan yang sedang terjadi di hadapan matanya sendiri.