Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos.
Pengurus MW KAHMI Sumut Periode 2026-2031
Di tengah perkembangan dunia akademik yang semakin dinamis, seorang akademisi tidak hanya dituntut untuk menghasilkan gagasan melalui ruang-ruang ilmiah, tetapi juga diharapkan mampu menghadirkan ilmu pengetahuan di tengah kehidupan masyarakat. Ilmu, dalam konteks ini, tidak berhenti sebagai pengetahuan yang tersimpan di ruang kelas, kampus, maupun publikasi ilmiah, tetapi bergerak menjadi energi sosial yang memberikan manfaat bagi umat.
Dalam perspektif tersebut, sosok Ki Ageng Dr. Joko Susanto, M.I.Kom, Sekretaris Umum Majelis Rayon KAHMI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sumatera Utara, menarik untuk ditempatkan sebagai bagian dari fenomena akademisi yang berupaya mempertemukan dunia intelektual dengan kehidupan spiritual dan sosial masyarakat.
Kehadirannya di lingkungan Majelis Cinta, Sumatera Utara, dapat dibaca bukan semata sebagai aktivitas sosial-keagamaan, melainkan sebagai sebuah ruang dialog antara ilmu, spiritualitas, komunikasi, dan pendidikan umat.
Fenomena ini menjadi semakin menarik apabila dikaji melalui perspektif spiritual Islam Jawa, khususnya tradisi yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang harus membangun keseimbangan antara dimensi intelektual, spiritual, sosial, dan kemanusiaan.
Akademisi dan Tanggung Jawab Sosial
Perguruan tinggi Islam memiliki mandat yang lebih luas daripada sekadar mencetak lulusan profesional. Ia juga mempunyai tanggung jawab moral dalam membangun peradaban, memperkuat kesadaran keagamaan, serta memberikan kontribusi terhadap persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Dalam kerangka tersebut, akademisi mempunyai posisi strategis sebagai intelektual yang mampu menjembatani antara pengetahuan dan kebutuhan umat.
Ki Ageng Dr. Joko Susanto, M.I.Kom, sebagai bagian dari lingkungan akademik UIN Sumatera Utara, dapat dilihat dalam perspektif tersebut. Aktivitasnya di ruang sosial-keagamaan memperlihatkan pentingnya kehadiran akademisi di tengah masyarakat.
Seorang akademisi tidak harus selalu berbicara melalui forum seminar atau ruang konferensi. Pengetahuan juga dapat ditransformasikan melalui pengabdian, dialog keagamaan, komunikasi sosial, keteladanan, dan interaksi langsung dengan masyarakat.
Dengan demikian, kampus dan masyarakat bukanlah dua dunia yang terpisah. Keduanya merupakan bagian dari ekosistem pendidikan yang saling membutuhkan.
Spiritualitas Islam Jawa dan Tradisi Majelis Cinta
Salah satu perspektif yang menarik untuk membaca fenomena tersebut adalah spiritual Islam Jawa.
Islam Jawa memiliki sejarah panjang dalam proses dialog antara nilai-nilai Islam dengan kebudayaan lokal. Dalam banyak tradisi spiritualnya, terdapat penekanan pada nilai keselarasan, ketulusan, penghormatan terhadap sesama, pengendalian diri, dan pencarian kedalaman makna kehidupan.
Namun, spiritualitas tidak seharusnya dipahami sebatas pengalaman batin individual. Spiritualitas yang matang justru menemukan manifestasinya dalam hubungan sosial: bagaimana seseorang memperlakukan manusia lain, bagaimana ilmu digunakan, bagaimana konflik dikelola, dan bagaimana seseorang menghadirkan kemanfaatan bagi lingkungannya.
Dalam konteks itulah istilah "Majelis Cinta" memiliki makna simbolik yang menarik. Cinta dalam tradisi spiritual Islam bukan hanya perasaan emosional, melainkan dapat menjadi energi etik yang melahirkan kasih sayang, penghormatan, persaudaraan, dan pengabdian.
Majelis kemudian tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya orang-orang yang memiliki kesamaan spiritual, tetapi juga dapat menjadi ruang pembentukan karakter dan kesadaran sosial.
Komunikasi Lintas Dimensi
Sebagai seorang akademisi di bidang komunikasi, keberadaan Ki Ageng Dr. Joko Susanto, M.I.Kom juga dapat ditempatkan dalam perspektif komunikasi lintas dimensi.
Komunikasi pada dasarnya tidak hanya berkaitan dengan pertukaran pesan secara verbal. Dalam kehidupan manusia, komunikasi berlangsung melalui bahasa, simbol, budaya, keteladanan, ekspresi spiritual, maupun pengalaman sosial.
Komunikasi lintas dimensi dalam konteks ini dapat dipahami sebagai upaya membangun jembatan antara berbagai ruang kehidupan: akademik dan masyarakat, intelektual dan spiritual, tradisi dan modernitas, serta pengetahuan dan pengabdian.
Seorang komunikator yang baik bukan hanya mampu menyampaikan pesan, tetapi juga memahami karakter orang yang menerima pesan tersebut.
Di sinilah pentingnya kemampuan membaca konteks budaya dan spiritual masyarakat. Pesan keagamaan yang disampaikan dengan bahasa akademik semata belum tentu mudah diterima oleh masyarakat. Sebaliknya, pengalaman spiritual masyarakat juga dapat menjadi sumber pengetahuan yang penting bagi dunia akademik.
Pertemuan keduanya menghasilkan dialog yang lebih humanis.
Dari Akademisi Menjadi Pendidik Umat
Konsep pendidik umat memiliki makna yang jauh lebih luas daripada seorang guru dalam pengertian formal.
Pendidik umat adalah mereka yang menghadirkan proses pembelajaran melalui kehidupan. Mereka memberikan pengetahuan, membangun kesadaran, memberikan teladan, dan mendorong masyarakat untuk terus berkembang.
Dalam perspektif ini, seorang akademisi dapat memainkan peran sebagai pendidik umat ketika ilmu yang dimilikinya tidak berhenti menjadi modal intelektual pribadi, tetapi dikembalikan kepada masyarakat.
Keberadaan Ki Ageng Dr. Joko Susanto di lingkungan Majelis Cinta Sumatera Utara menjadi menarik untuk dikaji dari sudut pandang tersebut. Ruang pengabdian dan interaksi sosial-keagamaan dapat menjadi laboratorium sosial tempat gagasan akademik bertemu dengan realitas kehidupan masyarakat.
Di sana, ilmu tidak hanya diuji melalui teori, tetapi melalui kemampuan memberikan manfaat.
KAHMI sebagai Ruang Intelektual dan Pengabdian
Dalam konteks organisasi alumni Himpunan Mahasiswa Islam, keberadaan KAHMI juga memiliki dimensi strategis. KAHMI tidak hanya menjadi ruang silaturahmi alumni, tetapi berpotensi menjadi jaringan intelektual dan sosial yang mempertemukan berbagai latar belakang profesi.
Kehadiran akademisi di dalam struktur maupun aktivitas KAHMI dapat memperkuat tradisi intelektual organisasi. Sebaliknya, pengalaman organisasi dan pengabdian sosial dapat memberikan perspektif baru bagi seorang akademisi dalam memahami persoalan masyarakat.
Posisi Ki Ageng Dr. Joko Susanto, M.I.Kom sebagai Sekretaris Umum Majelis Rayon KAHMI Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sumatera Utara menunjukkan adanya irisan antara tiga ruang penting: akademik, organisasi, dan masyarakat.
Ketiganya dapat menjadi fondasi bagi lahirnya model pengabdian yang lebih kontekstual.
Menyatukan Ilmu, Spiritualitas dan Pengabdian
Masyarakat modern menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Kemajuan teknologi dan komunikasi memberikan kemudahan luar biasa, tetapi pada saat yang sama menghadirkan persoalan baru berupa krisis kedalaman, fragmentasi sosial, dan melemahnya ruang dialog antarmanusia.
Dalam situasi tersebut, ilmu pengetahuan membutuhkan dimensi etika, sementara spiritualitas membutuhkan kemampuan untuk berdialog dengan perubahan zaman.
Karena itu, pertemuan antara akademisi UIN SU, spiritual Islam Jawa, komunikasi lintas dimensi, dan pendidik umat bukan sekadar sebuah konstruksi teoritis. Ia dapat menjadi model pemikiran untuk memahami bagaimana seorang intelektual Muslim mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.
Akademisi tidak cukup hanya menjadi pengamat. Ia perlu menjadi bagian dari proses perubahan.
Spiritualitas tidak cukup hanya dirasakan. Ia perlu diwujudkan dalam akhlak dan pengabdian.
Komunikasi tidak cukup hanya menyampaikan pesan. Ia harus mampu membangun pengertian.
Dan pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan orang pintar. Ia harus melahirkan manusia yang memiliki kesadaran moral dan kepedulian terhadap sesama.
Ki Ageng Dr. Joko Susanto, M.I.Kom dapat ditempatkan sebagai salah satu gambaran mengenai pentingnya kehadiran akademisi di tengah kehidupan umat. Aktivitas akademik, organisasi, spiritualitas, dan pengabdian masyarakat dapat dipertemukan dalam satu orientasi: kemanfaatan bagi manusia.
Majelis Cinta di Deli Serdang, dalam perspektif ini, dapat dipahami sebagai ruang perjumpaan berbagai dimensi kehidupan-tempat ilmu bertemu spiritualitas, komunikasi bertemu kebudayaan, dan intelektualitas bertemu pengabdian.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang akademisi bukan hanya seberapa banyak gelar yang disandang atau seberapa banyak karya ilmiah yang dihasilkan, tetapi juga sejauh mana ilmu tersebut mampu menerangi kehidupan orang lain.
Sebab ilmu yang benar-benar hidup adalah ilmu yang menemukan jalan menuju masyarakat.
Dan intelektual yang benar-benar hadir adalah intelektual yang menjadikan pengetahuannya sebagai jalan pengabdian.


