Dilema Presidium atau Presidensial: Ke Mana Arah MD KAHMI Medan 2026-2031?

Advertisement


 

banner

Dilema Presidium atau Presidensial: Ke Mana Arah MD KAHMI Medan 2026-2031?

MMS
Jumat, 04 September 2026

Oleh: Muhammad Mas’ud Silalahi, S.Sos

Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) MD KAHMI Medan 2026-2031, satu pertanyaan masih menjadi perbincangan: akan dibawa ke mana format kepemimpinan MD KAHMI Medan-Presidium atau Presidensial?

Hingga saat ini, belum ada keputusan final yang secara legal menetapkan sistem kepemimpinan tersebut. Padahal, pilihan sistem akan sangat menentukan arah kontestasi enam kandidat yang telah resmi mendaftarkan diri.

Jika Musda menetapkan sistem Presidensial, maka kontestasi akan berlangsung secara head to head. Enam kandidat akan berkompetisi untuk memperebutkan satu posisi strategis: Ketua Umum MD KAHMI Medan 2026-2031.

Namun, situasinya akan berbeda jika Musda memilih sistem Presidium. Dalam skema ini, kontestasi memperebutkan kursi Ketua Umum praktis berubah menjadi perebutan komposisi kepemimpinan. Keenam kandidat berpeluang masuk dalam jajaran Presidium, sementara pertarungan utama bergeser pada siapa yang akan dipercaya menjadi Koordinator Presidium.

Dengan demikian, pilihan sistem bukan sekadar persoalan teknis organisasi. Ia akan menentukan peta kekuatan, pola kompromi, distribusi peran, sekaligus wajah kepemimpinan KAHMI Medan lima tahun ke depan.

Di sinilah menariknya dinamika Musda. Apakah KAHMI Medan akan memilih model kompetisi satu lawan satu melalui sistem Presidensial, atau membangun kepemimpinan kolektif melalui Presidium?

Jawabannya tentu berada di tangan forum Musda.

Yang pasti, enam kandidat telah hadir, kontestasi telah dimulai, dan kini publik tinggal menunggu satu keputusan penting: Presidium atau Presidensial?

Mari ikuti terus perkembangan Musda MD KAHMI Medan 2026-2031 melalui kanal resmi MD KAHMI Medan dan berbagai media yang mengikuti dinamika organisasi ini.

Penulis adalah alumni HMI Medan dari Komisariat FDK UIN Sumatera Utara.