Penjabaran Ringkas Al-Qur’an tentang Mencapai Tujuan Kehidupan Manusia yang Hakiki

Advertisement


 

banner

Penjabaran Ringkas Al-Qur’an tentang Mencapai Tujuan Kehidupan Manusia yang Hakiki

MMS
Sabtu, 29 Agustus 2026

Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos
Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban

Setiap manusia menjalani kehidupan dengan tujuan. Ada yang mengejar harta, jabatan, popularitas, ilmu, keluarga, maupun berbagai kenikmatan dunia. Namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir. Di balik perjalanan hidup manusia, ada tujuan yang jauh lebih agung: beribadah kepada Allah, memperoleh ridha-Nya, dan kembali kepada-Nya dalam keadaan selamat.

Allah SWT berfirman:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ayat ini memberikan fondasi paling mendasar tentang tujuan penciptaan manusia. Hidup bukan sekadar tentang apa yang ingin kita miliki, tetapi tentang untuk siapa kehidupan ini kita persembahkan.

Karena itu, kesuksesan dalam perspektif Al-Qur’an tidak semata-mata diukur dari banyaknya harta, tingginya kedudukan, atau luasnya pengaruh seseorang. Kesuksesan hakiki adalah ketika manusia mampu menjalani kehidupan dalam ketaatan, menjaga hati, memperbaiki amal, dan akhirnya memperoleh keridhaan Allah SWT.

Allah berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ketenteraman hati tidak selalu lahir dari kelimpahan materi. Ia tumbuh dari hubungan yang benar dengan Allah. Sebab manusia boleh memiliki dunia, tetapi jangan sampai dunia memiliki hatinya.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa nilai kehidupan sangat bergantung pada orientasi dan niat seseorang. Dalam hadis yang sangat masyhur, beliau bersabda:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka memperbaiki tujuan hidup harus dimulai dengan memperbaiki niat. Pekerjaan, perjuangan, pendidikan, membangun keluarga, membantu sesama, bahkan aktivitas duniawi dapat bernilai ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan berada dalam jalan yang diridhai Allah.

Pada akhirnya, manusia akan kembali kepada Allah. Karena itu, Al-Qur’an menggambarkan keadaan orang yang berhasil mencapai tujuan hakiki dengan panggilan yang sangat indah:

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27–30)

Inilah puncak perjalanan seorang manusia: bukan sekadar hidup lama, tetapi hidup dalam ketaatan; bukan sekadar dikenal manusia, tetapi dikenal dan diridhai Allah; bukan sekadar memperoleh dunia, tetapi memperoleh keselamatan di akhirat.

Allah SWT menegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang sementara, sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya.

“Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut: 64)

Karena itu, mari kita tanyakan kepada diri sendiri: ke mana sebenarnya hidup ini sedang kita arahkan?

Jika tujuan akhirnya adalah Allah, maka setiap langkah harus mendekat kepada-Nya. Setiap keberhasilan harus melahirkan syukur. Setiap ujian harus melahirkan sabar. Setiap kesalahan harus membawa kita kepada taubat. Dan setiap kesempatan hidup harus menjadi jalan untuk memperbanyak amal saleh.

Sebab tujuan hidup bukanlah sekadar sampai di penghujung usia, tetapi sampai kepada Allah dalam keadaan Dia ridha kepada kita. Wallahu a’lam bish-shawab...